I LOVE QUR’AN (Part 1)

Standard

Qur'an-Berkenalan dengan Tahsin dan Tahfizh-

Seperti yang telah kita ketahui bersama, banyak sekali keutamaan al Qur’an. Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan, Rasulullah SAW bersabda: ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al Qur’an dan yang mengajarkannya.” Selain itu, dalam hadits riwayat Turmudzi juga disebutkan bahwa: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari al Qur’an, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. Namun, alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” Dan ternyata al Qur’an tidak hanya mengangkat derajat orang yang yang berinteraksi dengannya saja tetapi juga dapat mengangkat derajat orang tuanya di akhirat kelak. Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa yang belajar al Qur’an dan mengamalkannya, akan diberikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah dari cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, “Mengapa kami diberi ini?” Maka dijawab, “Karena anakmu yang telah mempelajari al Qur’an.”(H.R Abu Dawud, Ahmad, dan Hakim)

Untuk itu kali ini, saya akan berbagi cerita tentang suatu program yang dapat membantu kita untuk melakukan perbaikan bacaan al Qur’an dan menghafal al Qur’an, program ini biasa dinamakan program tahsin-tahfizh. Mungkin bagi sebagian orang yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren, program seperti ini sudah tidak asing lagi. Namun bagi yang tidak pernah sama sekali kecuali hanya ikut pesantren kilat saat Ramadhan (seperti saya ^^) nampaknya anda perlu tahu tentang program ini.

Ya, mempelajari ilmu tajwid secara teori hukumnya memang fardhu kifayah atau gugur kewajiban bagi yang lainnya apabila sudah ada orang yang menguasai ilmu tajwid tersebut secara teori. Namun tahukah kita apa hukum menerapkan bacaan al Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid? Ternyata hukumnya fardhu ‘ain. Hal ini berarti setiap dari kita memiliki kewajiban untuk membaca al Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid meskipun kita tidak menguasainya secara teori. Atau saya contohkan begini: jika nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ba maka pengucapannya berubah menjadi mim disertai gunnah (ditahan 2-3 harakat). Secara teori hukum bacaannya dinamakan iqlab. Namun, kita tetap wajib melakukannya meskipun kita tidak tahu apa nama hukumnya secara teori.

Sewaktu mengikuti TPA saat kanak-kanak dulu mungkin kita telah dikenalkan dengan berbagai macam teori mengenai ilmu tajwid. Saya ingat bagaimana ustadz/ah saya saat itu mengajarkan kami. Ingatkah anda bagaimana cara menghafal huruf-huruf qalqalah? Ya, betul sekali ‘ba ju di to qo’, begitu biasanya kita menyebutnya. Selain itu banyak banyak lagi ilmu tajwid yang telah kita pelari saat masih kanak-kanak. Namun, apakah kita telah menerapkannya dalam bacaan Qur’an kita sehari-hari?

Hal ini sempat saya rasakan pada awal saya mengikuti program ini di salah satu lembaga. Ternyata tidak hanya kursus bahasa inggris saja yang perlu diadakan placement test tapi belajar membaca al Qur’an pun demikian. Awalnya saya pikir saya akan ditanyai tentang hukum bacaan dalam potongan ayat, namun perkiraan saya ternyata kurang tepat. Saya hanya diminta membaca satu surat kala itu yaitu surat an Naba’. Saya pun sedikit lega kerena saya merasa bacaan saya akan lancar-lancar saja karena saya sudah tidak asing lagi dengan surat tersebut. Namun apa kata ustadz yang mengetes saya saat itu? Bacaan Makhroj salah sekian, mad salah sekian, dan gunnah salah sekian. Kalau dihitung-hitung sepertinya lebih banyak bacaan saya yang salah daripada yang betul. (Hehe..malu sih tapi ga papa tetep semangat!) Ya itulah, ternyata pelajaran yang didapat saat TPA sedikit sekali yang benar-benar saya terapkan dalam bacaan Qur’an saya sehari-hari.

Biasanya dalam suatu lembaga tahsin-tahfizh atau ma’had al Qur’an terdapat 4 program, diantaranya:

1. BBQ, program ini diperuntukkan untuk peserta yang belum mengenal huruf dengan baik.

2. Tahsin I dan II, program ini diperuntukkan bagi peserta yang sudah mampu membaca namun tajwidnya belum sempurna. Bagi para peserta baru, biasanya dimulai dari tahap tahsin I kemudian dilanjutkan ke tahsin II untuk pemantapan.

3. Takhoshshush, program ini diperuntukkan bagi para peserta tahsin II sebelum ke tahap tahfizh. Biasanya program ini dikhususkan bagi peserta yang belum mencapai target tahsin (Cth: Ujian tilawah belum mencapai nilai 8 (layak tahfizh), dsb.) Pada tahap ini peserta sudah diperbolehkan menghafal juz 30, namun tetap harus talaqqi (berhadapan langsung dengan ustadz/ah) dalam membaca al Qur’an.

4. Tahfizh, program ini diperuntukkan bagi peserta yang sudah mampu membaca al Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Dalam program ini peserta diharapkan senantiasa menghafal Al Qur’an dan muraja’ah serta tidak lupa talaqqi setoran hafalan kepada ustadz/ah setiap pertemuan.

Semua tahapan harus diiringi dengan intensitas tilawah harian kita yang baik, usahakan mencapai 1 juz setiap harinya. Tapi bagi yang belum terbiasa, tidak apa-apa semampunya dulu asalkan berusaha untuk istiqamah setiap harinya. (Hmm..ternyata untuk menjadi penghafal al Qur’an yang baik banyak juga ya tahap-tahapnya dan syaratnya bacaan Qur’annya juga harus baik dulu ya?!)

Kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan oleh para pemula, yang mungkin dahulunya sering tidak kita sadari diantaranya adalah membaca huruf tsa seperti huruf sa karena tidak dikeluarkan sesuai makhrojnya yang seharusnya dengan cara mengeluarkan sedikit ujung lidah, atau membaca mad yang disamaratakan hanya 2 harakat padahal mad itu ada yang dibaca 4 dan 6 harakat, atau membaca huruf-huruf ikhfa dan iqlab tidak disertai gunnah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Nah, dengan mengikuti program ini kita dapat membiasakan lidah kita untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut. Jika sudah baik bacaannya maka tinggal kita menghafalkannya. Biasanya jika kita menghafal sendiri di rumah, keistiqamahan kita mudah sekali goyah karena tidak ada yang mengingatkan maupun memotivasi kita serta tidak ada buku mutaba’ahnya. Tapi jika sudah ada jadwal setoran hafalan Qur’an ke ustadz/ah ditambah buku mutaba’ah yang wajib diisi tiap hari serta adanya ujian hafalan tiap juz nya, mau tidak mau kita harus menghafal khan? Jadi keistiqamahan kita dalam menghafal al Qur’an bisa lebih terjaga. Selain itu kebenaran bacaan kita juga lebih terjamin karena dinilai dan diperhatikan langsung oleh ustadz/ah.

To be continued…

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s