Gula “Andai Aku Seperti Sirop!”

Standard

Saat saya sedang membuka-buka situs eramuslim, entah kenapa saya tertarik dengan tulisan ini. Meskipun saya suka yang manis-manis tetapi tentu saja alasannya bukan karena gula dan sirop itu rasanya manis ya?! ^^ Menurut saya, kisah ini merupakan kisah yang ringan namun sarat akan hikmah. Semoga dapat kembali mengingatkan diri kita bagaimana memaknai hidup itu sebenarnya…Selamat membaca!
sirup

Tak ada yang lebih gusar melebihi makhluk Allah yang bernama gula pasir. Pemanis alami dari olahan tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan makhluk sejenisnya yang bernama sirop.

Masalahnya sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai manusia. Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia sudah mengorbankan diri untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut dirinya dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, “Ini teh manis.” Bukan teh gula. Apalagi teh gula pasir.

Begitu pun ketika gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang mengatakan campuran itu dengan ‘kopi gula pasir’. Melainkan, kopi manis. Hal yang sama ia alami ketika dirinya dicampur berbagai adonan kue dan roti.

Gula pasir merasa kalau dirinya cuma dibutuhkan, tapi kemudian dilupakan. Ia cuma disebut manakala manusia butuh. Setelah itu, tak ada penghargaan sedikit pun. Tak ada yang menghargai pengorbanannya, kesetiaannya, dan perannya yang begitu besar sehingga sesuatu menjadi manis. Berbeda sekali dengan sirop.

Dari segi eksistensi, sirop tidak hilang ketika bercampur. Warnanya masih terlihat. Manusia pun mengatakan, “Ini es sirop.” Bukan es manis. Bahkan tidak jarang sebutan diikuti dengan jatidiri yang lebih lengkap, “Es sirop mangga, es sirop lemon, kokopandan, ” dan seterusnya.

Gula pasir pun akhirnya bilang ke sirop, “Andai aku seperti kamu.”
**
Sosok gula pasir dan sirop merupakan pelajaran tersendiri buat mereka yang giat berbuat banyak untuk umat. Sadar atau tidak, kadang ada keinginan untuk diakui, dihargai, bahkan disebut-sebut namanya sebagai yang paling berjasa. Persis seperti yang disuarakan gula pasir.

Kalau saja gula pasir paham bahwa sebuah kebaikan kian bermutu ketika tetap tersembunyi. Kalau saja gula pasir sadar bahwa setinggi apa pun sirop dihargai, toh asalnya juga dari gula pasir. Kalau saja para pegiat kebaikan memahami kekeliruan gula pasir, tidak akan ada ungkapan, “Andai aku seperti sirop!” (MN)

7 responses »

    • yah begitulah manusia…kadang suka lupa..inilah pentingnya saling mengingatkan..oya, aq blm blog walking lg nih!hhe..mw cari inspirasi dulu..Thx dhila ats support nya =)

  1. 🙂
    bagus bagus.

    tapi kan kalo Manis itu kata Sifat bukan kata benda, pilih disebut apa?
    Finda Cantik? apa Finda muka?:mrgreen:

    • ha..ha masa’ finda muka? muka kan kata benda?!ada2 aja nih geulis..oya, bikin blog dr kpn?hebat niy kecil2 udh jago nge-blog hhe..

  2. Hadooh. hampir kelewat…gak kebaca…!!

    ini artikel bagus banget..! aku baca sambil manggut2..
    hee..hee bener juga ya..
    gambaran kehidupan sehari hari tapi orang jarang sekali memaknai ini..

    seperti juga ilustrasi lain tentang seorang yg memecahkan batu sampai 100 kali pukulan , yg orang ingat hanya pukulan yg ke 100 aja.. yg memecahkan..
    tak ingat pukulan ke 1..2..3.. 77..dst..
    pdhal tanpa pukulan sblmnya batu itu tdk akan pecah..kan..?

    wallah aku malah.. ngladrah.. ngomonge…. hee.hee..gpp..ya..?

    Salam persahabatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s