Decision Maker???

Standard

Humm..rasanya lama juga saya tidak update blog ini…Sampai-sampai ada yg protes supaya di-update (maap..maap buat yg ngerasa:mrgreen: ) bukan sok sibuk tp emang rasanya nih otak udah dipaksa ‘kerja rodi‘ buat mengerjakan setumpuk kerjaan selama sepekan belakangan ini (hehe..spertinya yg ini berlebihan). Mungkin persentase kerja otak saya memang blom sebanding ama kerja otaknya Einstein (yaiyalah!) tapi kalo di film-in dalam film kartun mungkin otak saya udah ngebul kali ya???  So, daripada saya tambah stress mikirin mau nulis artikel apa, akhirnya saya memutuskan mengejar target Ramadhan yg hampir keteteran… (Lha knapa tulisan kali ini diawali dgn curhatan gini ya??! maap..maap :mrgreen:) Alhamdulillah..otak saya masih bisa diajak kompromi dan akhirnya saya berhasil meng-update blog saya dgn menerbitkan posting-an berikut ini.

Masuk ke area artikel sebenarnya……..

Pada hakikatnya setiap manusia adalah decision maker (pembuat keputusan). Menjalani kehidupan berarti siap menghadapi berbagai permasalahan hidup yang membutuhkan keputusan sebagai bentuk ikhitiar atas penyelesaian suatu masalah. Oleh karena itu, hidup dapat diibaratkan sebagai rangkaian pengambilan keputusan.

Bahkan, sejak dini pun anak-anak sebaiknya diajarkan untuk mengambil keputusan. Pengalaman dini dalam membuat pilihan dan keputusan dapat menolong anak untuk mengembangkan kemampuannya mengambil keputusan sekaligus tanggung jawab yang harus diembannya (risiko). Hal ini membuat si anak terlatih untuk membuat keputusan dan menananggung akibat dari pilihannya. Jadi, sebaiknya para orang tua tidak perlu terlalu khawatir jika si anak mengambil keputusannya sendiri asalkan masih dalam batasan. Misalnya dalam memilih warna pakaian, memilih jenis kursus yang diminati, atau memilih jenis permainan yang akan dimainkan.

Namun, para orang tua juga tidak bisa membiarkan si anak memutuskan segala sesuatunya sendiri sehingga mengakibatkan anak bertindak semaunya. Semisal, anak memutuskan untuk tidak masuk sekolah karena malas maka orang tua tidak dapat memberikan keleluasaan begitu saja sehingga membiarkan si anak bolos sekolah. Terkadang orang tua malas ‘bertengkar’ dengan si anak sehingga meluluskan apapun permintaan si anak.

Kemudian biasakanlah anak mencari tahu sendiri dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Jangan terlalu cepat memberi tahu, akibatnya anak akan cenderung pasif dan menerima begitu saja segala sesuatu. Kemudian, jangan membiasakan diri untuk melarang apapun yang dikerjakan anak, sebaiknya kata-kata melarang seperti: ‘jangan’ diganti menjadi kata-kata mengajak yang sifatnya mengalihkan perhatian anak, seperti: ketika anak sedang bermain di tangga, karena orang tua merasa khawatir biasanya para orang tua berkata ” ‘Jangan’ bermain di tangga, nak! Nanti jatuh.” Kata-kata tersebut sebaiknya diganti menjadi  “Ayo nak, kita menonton video anak sholeh, seru lho!”  Anak yang sering dilarang akan berkembang menjadi anak yang takut untuk membuat keputusan sehingga cenderung pasif dan ketergantungan.

Jika sejak masih anak-anak sudah dibiasakan untuk mengambil keputusan sendiri maka jika mereka dewasa nanti, mereka sudah tidak akan ragu-ragu lagi dalam mengambil keputusan. Tentu saja hal ini tidak didapat melalui proses yang sebentar tetapi melalui masa trial error yang panjang sehingga mereka dapat mencapai kemantapan diri yang seperti itu.

Namun seringkali, mengambil keputusan nampaknya menjadi sesuatu yang lebih kompleks bagi orang dewasa sehingga terkadang diri ini sulit untuk memutuskan. Walaupun semestinya salah satu ciri kedewasaan adalah mampu mengambil keputusan.

Yg Mana YaPada hakikatnya, orang dewasa mampu belajar dengan cara menganalisis, mensintesis, merefleksi dan merenungkan informasi yang diterimanya kemudian ia jadikan sikap hidupnya. Apabila informasi itu ternyata benar menurut dirinya maka ia mengambil keputusan dalam dirinya.

Sedangkan anak-anak hanya belajar dengan cara mengumpulkan informasi tanpa memproses informasi lebih lanjut seperti cara orang dewasa tersebut.

Walaupun seringkali terlihat sulit, jangan pernah takut untuk mengambil keputusan. Jika merasa bimbang, sebaiknya mohon kepada Sang Maha Pemberi Petunjuk terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Mohonlah petunjuk-Nya dalam tiap bait do’a-do’a kita agar diberikan kemudahan untuk memutuskan segala yang terbaik. Supaya lebih mantap sebaiknya lakukanlah shalat istikharah juga.

Ketika sebuah keputusan telah diputuskan maka kita harus siap dengan segala konsekuensi yang ada. Jalani saja setiap keputusan yang telah berani kita ambil, tak usah khawatir, kita hanya perlu menyesuaikannya dalam kehidupan kita. Pepatah kuno mengatakan “sekali mengambil keputusan, jangan coba untuk melihat kembali kebelakang.” Yakinilah setiap keputusan yang telah kita ambil.

Terakhir saya kutip pernyataan Donald Trump berikut ini :

“I’m most impressed with someone who can make a decision. Even if the decision turns out not to be the right choice, at least a decision was made.”

25 responses »

  1. Saya mah salut mbak, begitu menariknya tulisan mbak sampai ada yang protes karena nggak diupdate.
    Saya percaya setiap insan adalah pengambil keputusan untuk dirinya sendiri so kalau nggak gitu gimana mau bergerak ? Decesion Maker kan kata orang bule. Dan sekarang mbak juga sudah mengambil keputusan untuk memposting lagi. JANGAN LUPA LAGI YA….

  2. Menjadi pemimpin atas diri sendiri juga harus mampu mengambil keputusankan ? jika tidak bagaimana mau menjadi sosok yang decesion maker ? minimal untuk diri sendiri dan keluarga, itu mutlak.

  3. Memang seorg blogger ya harus memutuskan utk meng-update posting-annya agar para pengunjung ga boseenn…begitu kan ya??🙂
    Siiipp ga lupa lg deh pak Aldy….eh..double Aldy…….(SayaSukaBingungKaloygKasihKomenDuaNamaygSama) Mksiiih yaaaa……..

  4. dalam prosesi pengambilan keputusan, ada contoh dalam suatu iklan yang bunyinya : kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda!

    kesan pertama mmg akan menentukan tingkat kualitas keputusan kita. untuk apdet blog, mau nuruti pembaca atau kata hati he..he…

    • ooo..gitu ya pak??Kesan pertama??humm..

      Nah..itulah yg mbuat saya kadang bingung…tp gara2 masukan dr pembaca jd mndorong kata hati saya utk update blog hehe..

  5. dengan berani mengambil sebuah keputusan, berarti kita juga sudah memahami sebelumnya apa yg akan menjadi resiko dr keputusan yg kita buat.
    seperti yg ortu kita sering katakan : pikirkan dulu, untung ruginya sebelum ambil keputusan.
    Salam.

  6. Assalamualaikum..
    Salam kenal mba Finda, kunjungan perdana nih:)

    Betul, memang setiap orang adalah decision maker khususnya untuk dirinya sendiri. Dan bila kita telah menjadi orang tua keputusan kita juga terkadang dibutuhkan oleh anak2 kita, tetapi bentuknya bisa berupa pemberian saran dsb nya. Meski sebenarnya itu secara tidak langsung bagian dari decision maker juga sih.

    Membuat keputusan adalah hal sangat penting dalam kehidupan kita. Tanpa ada keputusan yg diambil maka langkah ini akan terhenti. Keputusan itu mulai dari hal-hal kecil sampai pada hal yg sangat berpengaruh pada perjalanan hidup kita seperti pemilihan jurusan ketika akan masuk perguruan tinggi, memilih tempat bekerja dan sampai pada keputusan untuk menikah. Yah intinya pengambilan keputusan merupakan lonceng yg menandakan dimulainya jam pelajaran kehidupan di setiap fasenya. Nice posting. Saya link ya mba blognya. Terima kasih

    • Walaikumsalam..wr.wb
      Salam Knal jg mba Rita…😀
      Makasiiih ya udh bkunjung ksini…komennya muantab!hehe..
      iya..silakan!pasti saya link balik….

  7. sangat inspiratif n berani….
    gak gampang menjadi decision maker…
    musti berhati baja, bermuka badaaakk… hehheeee

    tapi inilah nikmatnya hidup sang pemimpinn…. setidaknya memimpin diri sendiri

    • Mkasiih ya udh bkunjung ksini..
      Cuma sy ga mau ah bermuka badak.. sereeemmm…! hehe..
      yup, tiap diri adalah pemimpin..minimal utk dirinya sndiri..

  8. pengambilan keputusan di pengaruhi oleh cara pembentukan respon terhadap masalah. dan setiap orang dewasa memang berbeda dikarenakan letak pengalaman hidup dan tingkat kecerdasaan dalam mengambil keputusan. terkadang hati nurani bermain disini , dan tentunya tingkat masalah itu sendiri . Bila mudah maka bisa cepat dan bila rumit bisa lambat namun bila terdesak maka pragmatis

  9. Sehebat apapun, seorang Decision make tetap melalui tahap-tahap analisisis, wargaming dan penentukan cara bertindak walau hanya dalam sekejap. Dari hasil itu semua baru diambil suatu keputusan.
    Salam dari Surabaya

    • hehe…itulah kbiasaan buruk saya!klo lg bkunjung..lupa mninggalkan jejak URL..Maaf udh ngerepotin…Makasiih ya udh bkunjung ksini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s