Bahasa Terkadang Sulit Ditebak – Malaysia & Singapura

Standard

Tiba-tiba saya ingin cerita nih seputar bahasa. kenapa begitu? Ya karena menurut saya bahasa itu penting banget dalam memperlancar komunikasi. Sebelumnya saya mau mengingatkan perjalanan saya April 2012 lalu. Pemilihan penggunaan bahasa dimulai saat kami tiba di airport LCCT Malaysia. Saat ingin membeli tiket bus menuju KL Central saya sempat bingung mau pakai bahasa apa hehe.. Walaupun di negara ini banyak yang bisa berbahasa melayu tapi penggunaan bahasa Inggris juga cukup populer. Setibanya di depan loket, si petugas langsung saja bertanya pada saya, “Berapa?” Lalu spontan saya jawab ” Tiga!” . Tapi anehnya dia malah memberi saya hanya 1 tiket. Hufh..piye to mas?? Kayaknya ni orang ga dengerin baik-baik apa emang ga ngerti ya? Lalu saya pun menunjukkan 3 jari saya sambil mengulangi perkataan saya “Tiga!” barulah iya memberi saya tiga buah tiket. Setelah keluar airport kami pun kebingungan mesti naik bus darimana. Akhirnya saya kembali lagi ke loket tadi untuk bertanya. Sesampainya di sana saya kembali ragu untuk menggunakan bahasa Indonesia. Tapi saya putuskan untuk tetap pakai bahasa Indonesia.. Bangga donk dengan bahasa kita sendiri😀 *ngeles “Ini naik darimana?” seperti perkiraan saya, petugas loket yang tadi tuh emang ga begitu mengerti bahasa saya, dan dia pun bertanya ke teman sebelahnya dan barulah ia menjelaskan. 

Kejadian selanjutnya adalah saat akan check in di Guest house yang memang sudah kami pesan sebelumnya. Saya menunjukkan bukti pemesanan, dan seorang bapak separuh baya yang bermata sipit ini mulai memeriksa dan meminta paspor saya. Bapak ini cukup ramah. Di Malaysia, kita memang bisa melihat beragam etnis di mana-mana. dan sepertinya orang Melayu, Cina, India sama banyaknya di sini.  Sesekali bapak ini berbahasa melayu, namun hanya awalnya saja, selebihnya ia berbahasa Inggris. Dan akhirnya kami pun sedikit mengobrol dengan bahasa Inggris. Setelah mencoba mengeja sekaligus menuliskan nama saya, ia pun sempat bertanya pada saya, “Are you christian?” . Awalnya saya agak kurang yakin ia bertanya begitu karena jelas-jelas saya ini berjilbab. Karena saya sempat terdiam heran, akhirnya teman saya yang menjawab, “No, we are moslem.” Bapak itu akhirnya menjelaskan bahwa dia pikir saya seorang kristiani karena nama saya. Mungkin sepintas nama lengkap saya mirip dengan nama-nama kristiani hehe tak apalah..  Oya, setelah check in kami memutuskan untuk kembali jalan-jalan dan sepertinya kami akan pulang agak larut. Untuk itu, salah seorang teman saya berinisiatif untuk menelpon ke guest house untuk bertanya apakah kami boleh pulang larut atau tidak. Jangan sampai gara-gara pulang larut nanti kami dikunciin lagi haha.. Nah, ada sedikit kejadian lucu saat percakapan di telepon. Cukup lama teman saya itu bercakap-cakap di telepon tapi sepertinya petugas Guest House tersebut belum juga mengerti maksudnya. Dan akhirnya, hp nya diserahkan ke saya karena teman saya sudah tidak tahu harus berbicara apa. Akhirnya saya pun mencoba melanjutkan pembicaraan dan alhamdulillah akhirnya petugas itu pun mengerti maksud kami. Teman saya pun sempat bertanya, “koq dia ngerti sih maksud kamu? dari tadi aku ajak ngomong malah muter-muter jawabnya”. Saya pun menjawab, “Tadi aku cuma ngomong kalau kita akan pulang terlambat dalam bahasa Inggris (gaya banget padahal belepotan ). Dan petugas itu bilang gak apa-apa.  Ya udah aku tutup telponnya.” Ternyata teman saya tadi mencoba mengajaknya berbicara dalam bahasa Indonesia tapi sepertinya dia tidak mengerti. Walaupun bisa berbahasa melayu, bahasa Indonesia dan melayu itu memang gak sama makanya kadang bikin miskom.

Nah, berbicara seputar bahasa sebenarnya memang sedikit membingungkan memilih bahasa untuk digunakan di sini. Saya pernah bertanya ke orang yang terlihat seperti orang melayu tapi ternyata tidak bisa berbahasa melayu dan baru nyambung saat menggunakan bahasa Inggris. Oleh sebab itu untuk amannya saya memilih berbahasa Inggris walaupun dengan bahasa asal ‘njeplak’:mrgreen: Tapi lucunya pas di restoran India yang biasanya mengajak kami berbicara bahasa Inggris. Si pelayan malah salah menyebutkan angka. Dia bilang, “twenty ringgit.” Padahal jelas-jelas harga seporsinya cuma 4 ringgit, kalau dikali 3 seharusnya jumlanya 12 ringgit kan. Kami pun sempat bingung dan mencoba mengajaknya menghitung ulang makanan kami. Dan ternyata dia memang salah menyebut angka, maksudnya tuh “twelve ringgit (12 ringgit).” Hadooh….

Giliran pas di bus mau ke Genting Highland saya sebangku sama ibu-ibu yang mukanya rada bule..eh.. ternyata ibu itu ga bisa bahasa Inggris. Kayaknya dia dari Turki atau negara apa gitu kali ya. Yowislah..karena ga bisa ngobrol jadilah saya memilih tidur selama perjalanan.:mrgreen:

Akhirnya sewaktu mengunjungi Singapore sebagai destinasi berikutnya, kami memilih cari aman untuk selalu menggunakan bahasa Inggris. Ya, karena memang di sana mayoritas berbahasa Inggris. Mulai dari ngomong ke petugas tiket, satpam, dsb. Walaupun beberapa ada yang coba berbicara dengan kami dalam bahasa Indonesia meski cuma sepotong. Kedengarannya malah aneh hehe.. Namun, lain halnya saat mau beli souvenir di Sentosa Island, kami langsung ditawari barang-barang dagangan mereka dengan bahasa Indonesia yang fasih. Kalau yang ini memang beneran orang Indonesia yang memilih pindah kewarganegaraan dan tinggal di Singapore. Pantes bahasa Indonesianya masih sedikit medok jawa hehe..

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s